Cara Bisnis Properti, Investasi Properti dan Desain Rumah Minimali

Usaha Properti

Harga Tanah dan Material Mahal, Pengembang Menuntut Kenaikan Harga

Harga Tanah dan Material Mahal, Pengembang Menuntut Kenaikan Harga ~ Di tengah pertumbuhan ekonomi yang sedang melambat dan naiknya US Dollar membuat harga berbagai macam kebutuhan melambung tinggi, tak terkecuali juga harga tanah dan material bangunan.

Saat ini harga rumah dengan Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) di nilai sudah tidak seimbang lagi dengan kebutuhan di lapangan.

Seperti yang di utarakan ketua umum Realesatate Indonesia (REI) Eddy Hussy, selisih harga rumah FLPP dengan biaya membangunnya sangat tipis. Untuk itu REI meminta agar pemerintah mau menaikkan patokan harga maksimal di sejumlah daerah.

Untuk harga FLPP sekarang berlaku hingga 5 tahun yakni 2013-2018 yang harganya mepet di lapangan. Sebab itu Eddy mengusulkan ada sekma dari harga FLPP yang ada sampai  Rp 250 juta hingga  RP 350 juta khusus untuk rumah tapak, begitulah ujar Eddy, Selasa (15-09-2015).

Eddy mengatkan, harga rumah yang di tetapkan pemerintah tergantung daerahnya, misalnya di Papua harga maksimal Rp 174 juta. Harga ini terhitung rendah, mengingat harga material di Indonesia Timur saat ini sangat mahal di tambah lagi biaya distribusi yang tinggi.

Harga Tanah dan Material Mahal, Pengembang Menuntut Kenaikan Harga

Gambar: ilustrasi pembelian material bangunan yang mahal

Berlanjut ke daerah Jawa Barat harganya adalah Rp 110 juta. Nilai ini di nilai tidak mampu lagi untuk menutup biaya pembangunan rumah. Ini tak lain karena pesatnya kenaikan harga lahan saat ini.

Dari tuntutan Eddy sebagai ketua umum REI, meminta agar patokan harga berubah menjadi sekitar  Rp 250 juta hingga Rp 350 juta.

Tidak hanya meminta patokan harga, Ketua REI juga meminta bunga cicilan sebesar 5 persen atau 7-8 persen yang di bebankan kepada MBR melalui sekma pembelian rumah FLPP. Khusus untuk rumah susun, menurut beliau bunganya di bebankan sebesar 5% karena rusun berbeda dengan rumah tapak.

Harga rumah susun lebih mahal bukan karena pengembang untung besar, namun karena biaya bangaunan dan konstruksi yang juga mahal. Lebih lanjut Eddy meminta adanya pembangunan secara vertical harus di galakkan mengingat pertumbuhan penduduk yang semakin besar.

Baca juga:

Tahun Ini Pembelian Rumah KPR Menurun

Pertumbuhan Ekonomi Rata-Rata Dunia Masih Di Bawah Indonesia

Kepada pemerinah, Eddy menyarankan agar mengkaji masyarakat dengan pendapatan Rp 3 juta – Rp 5 juta/bulan, karena masyarakat ini belum di atur dalam skema subsidi pemerintah. Ya, begitulah harapan Eddy pada pemerintah agar adanya pengkajian masyarakat berdasarkan penghasilan untuk skema rumah subsidi.

Demikian artikel Harga Tanah dan Material Mahal, Pengembang Menuntut Kenaikan Harga semoga bermanfaat, samapi jumpa di artikel berikutnya.

Bantu Bagikan:

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *